Kamis, 22 Januari 2009

SINKRONISASI PEMBELAJARAN SENI RUPA DAN KOMPUTER

Oleh Widdy Endrayanto
Guru Yayasan UK Petra

Abstrak
Anticipation education is education which cares of self optimum by continuing evaluation and development. The school should ask the teachers to continue study not only one subject. Synchronization system is very effective for teachers to supply the student’s knowledge, skill and ability. Hopefully the student can be motivated by this system. Example for synchronization implementation is to bundle of art lesson which have art principles with the computer lesson which have graphic design tool.
Key Word: Synchronization, The rules of the art, Graphic design, Creativity.


Pendahuluan
Pendidikan menyiapkan generasi penerus menjadi lebih baik dari generasi sekarang. Saat ini kita semua berada di era globalisasi. Suatu era yang padat dengan interkoneksi antara informasi, kecepatan, kompleksitas, dan ketidakpastian. Maka mereka dituntut memiliki kemampuan yang lebih, kreatif dan profesional. Untuk hal itu, pendidikan harus mampu menyiapkan generasi yang mampu menjawab tantangan kehidupan secara kritis dan kreatif berdasar bakat, minat serta bidang ketrampilan yang ditekuni siswa nantinya.

Sekolah merupakan wadah strategis dalam menyiapkan generasi yang berkualitas. Berbagai mata pelajaran disajikan guna membekali siswanya dalam mengantisipasi tuntutan zaman. Salah satu mata pelajaran yang sangat dekat dengan teknologi informasi adalah komputer. Lalu, setelah komputer adalah mata pelajaran seni rupa. Dimana seni rupa dapat diaplikasikan dengan menggunakan perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Banyak sekali software yang menggunakan aplikasi seni rupa. Diantaranya software photoshop, coreldraw, clipart.

Perkembangan teknologi dan informasi menghasilkan suatu media baru yaitu internet. Dimana internet memungkinkan mengajak semua orang melihat situs web milik orang-orang di semua belahan bumi. Sekaligus internet mendorong seseorang memiliki situs web sendiri. Sehubungan bahwa web dapat dipakai sebagai media komunikasi dan promosi, maka penampilan web harus enak dipandang mata. Sehingga web yang menarik adalah web yang tidak melulu menggunakan teks. Tetapi web yang menggunakan tampilan visual akan lebih meningkatkan daya pikat pengunjung web tersebut. Walaupun begitu, dalam kasus tertentu, seringnya suatu web dikunjungi oleh pengunjung tidak semata-mata karena tampilan visual yang menarik. Hal ini dipengaruhi oleh faktor pengunjung yang lebih mengingat kata-kata atau frase kalimat dalam mencari suatu web lewat mesin pencari (search engine). Pengunjung jarang sekali atau bahkan masih kesulitan ketika mencari sebuah web melalui gambar (image). Yang sering terjadi adalah, mencari situs web melalui judul (title) gambar.

Sinkronisasi Pembelajaran
Menyadari kondisi sekarang ini bahwa keterkaitan mata pelajaran satu dengan mata pelajaran yang lainnya tidak dapat dipisahkan secara mutlak, maka perlu suatu langkah strategis dalam menyiasatinya. Sinkronisasilah jawabannya. Dimana pembelajaran mengusahakan keterkaitan antar mata pelajaran agar diperoleh penguasaan materi secara utuh.

Salah satu contoh, sinkronisasi antar mata pelajaran yang saat ini sangat diperlukan adalah mata pelajaran teknologi informasi dengan pelajaran seni rupa. Dimana seni rupa dapat diaplikasikan dengan menggunakan perangkat keras (hardware), maupun perangkat lunak (software). Banyak sekali software yang menyediakan aplikasi seni rupa. Diantaranya software photoshop, coreldraw, clipart. Perkembangan teknologi dan informasi, mengajak semua orang memiliki situs web. Hal mana web yang menarik adalah web yang tidak melulu menggunakan teks. Tetapi web yang menggunakan tampilan visual, lebih meningkatkan daya pikat pengunjung web tersebut.

Pihak guru dan siswa perlu bekerja sama dalam pelaksanaan sinkronisasi ini. Sebagai sumber daya manusia, guru harus selalu mau belajar. Kalau beberapa waktu lalu guru mungkin hanya memiliki satu bidang kemampuan saja, sekarang melalui sinkronisasi, guru diharapkan dapat mengembangkan kemampuannya yang lain.

Pada kesempatan lain, kurikulum, silabus, dan perangkat pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang menunjang terlaksananya sinkronisasi. Saatnya kurikulum disusun berdasarkan kebutuhan dengan melihat situasi dan kondisi yang terjadi di lingkungan di mana siswa belajar.

Prinsip-prinsip Seni
Dalam kajian seni, pendekatan yang menekankan intuisi, dan akal sehat saja dari peserta didik belum menjamin terpecahkannya sebuah permasalahan. Namun ada kalanya akal sehat yang disampaikan dengan argumentasi yang meyakinkan dapat pula diterima sebagai kebenaran. Aristoteles adalah orang pertama yang secara sistematis menyelidiki hakikat dan metode ilmu pengetahuan serta melihat ilmu falsafah sebagai logika, fisik, dan etik. Ia dianggap sebagai bapak logika, karena pertama kali menggunakan cara berpikir yang teratur dalam suatu sistem (Widagdo, 1993:32-34).

Berdasar pemahaman atas keteraturan itu, maka dalam menghasilkan karya seni, ada beberapa prinsip seni yang perlu diperhatikan, antara lain:
1. Kesatuan. Prinsip kesatuan, menghendaki adanya kekompakan dari masing-masing komponen dalam sebuah karya seni. Kesatuan ini menciptakan suasana solid dan terpadu. Karya seni yang memperhatikan prinsip kesatuan tersebut akan memiliki kesan keutuhan.
2. Keseimbangan. Prinsip keseimbangan, menghendaki agar suatu karya seni memberim kesan seimbang antara sisi satu dengan sisi yang lain, atau bidang satu dengan bidang yang lain secara proporsional. Kesan seimbang bisa dicapai melalui pengaturan warna, tekstur, serta unsur seni rupa yang lain.
3. Keharmonisan. Prinsip keharmonisan, menghendaki adanya keserasian atau keselarasan dalam suatu karya seni. Keharmonisan tersebut bisa dicapai melalui penyusunan unsur-unsur seni rupa secara padu.
4. Ritme. Ritme, menghendaki agar suatu karya seni ada kesan bergerak. Gerak ini akan memberi kesan dinamis dan hidup pada karya seni.
5. Emphasis. Emphasis, menghendaki agar suatu karya seni memiliki pusat perhatian. Pusat perhatian tersebut dapat dimunculkan dengan berbagai cara penyusunan atas unsur-unsur seni.

Pembuatan Situs WEB
Salah satu mata pelajaran yang sangat dekat dengan teknologi informasi, selain komputer, adalah pelajaran seni rupa. Dimana seni rupa dapat diaplikasikan dengan menggunakan perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Banyak sekali software yang menggunakan aplikasi seni rupa. Diantaranya software photoshop, coreldraw, clipart.
Perkembangan teknologi dan informasi, serta pesatnya dunia internet, mengajak semua orang maupun korporasi memiliki dan mengelola situs web. Web sebagai suatu sarana promosi diri maupun lembaga, sangat efektif dalam mengkomunikasikan berita ke seluruh dunia. Oleh karena itu web dituntut tampil menarik. Adapun web yang menarik adalah web yang tidak melulu menggunakan teks, tetapi web yang juga menggunakan tampilan visual. Hal itu akan lebih meningkatkan daya pikat (perhatian) pengunjung web tersebut.

Intinya, bahwa pembuatan sebuah web memerlukan beberapa hal sebagai berikut:
1. Adanya Domain. Domain, bagaikan sebuah toko dimana kita menjual berbagai produk dan jasa.
2. Adanya Hosting. Hosting, bagai plaza di mana domain berada. Jadi hosting merupakan tempat berkumpulnya domain-domain.
3. Adanya Theme (layout). Layout, merupakan suatu pengaturan komposisi yang tersusun atas beberapa topik isian.
4. Adanya Content/ Isi. Isi, merupakan berita utama yang hendak disajikan agar dibaca oleh orang lain, ketika orang lain membuka web tersebut.

Hal lain yang perlu diperhatikan, bahwa sebuah web dapat ditayangkan baik dengan cara didaftarkan ke penyelenggara hosting secara gratis maupun secara berbayar. Biasanya, dalam dunia bisnis, web yang telah dibuat disarankan agar didaftarkan ke penyelenggara hosting secara berbayar. Hal itu demi profesionalisme layanan. Para guru yang baru belajar, bisa memulai membuat web dan mendaftarkan secara gratis dulu ke penyelenggara hosting.

Proses Kreativitas
Secara operasional, kreativitas dapat dirumuskan sebagai kemampuan berpikir atau memberi gagasan secara lancar, lentur, dan orisinil, serta mampu mengelaborasi suatu gagasan (Munandar, 1987:47-50). Elaborasi adalah kemampuan untuk mengembangkan, merinci dan memperkaya suatu gagasan (Utami Munandar dalam Kiswandono, 2000).

Pengertian kreativitas tersebut dapat diterapkan pada kemampuan guru dalam menajalankan proses pembelajaran. Harapannya bahwa metode pembelajaran apapun yang digunakan oleh seorang guru, seyogyanya harus melibatkan unsur-unsur dalam proses kreativitas. Jika tidak demikian, maka pendidikan itu dianggap gagal. Gagal karena tidak memberi kesempatan kepada individu mengoptimalkan daya juang demi peningkatan kemampuan yang ada pada dirinya. Baik dalam bernalar, berasa, maupun bertindak.

Melalui sinkronisasi terhadap dua mata pelajaran atau lebih, merupakan upaya nyata dari guru untuk melakukan proses kreatif sekaligus rekreatif. Kejelian guru mengamati suatu masalah pembelajaran, mendayagunakan pengetahuannya, mengoptimalkan sarana dan fasilitas yang ada, merupakan cerminan guru yang berjiwa pembelajar. Sangat diharapkan antar guru dapat menjalin dan mengkondisikan suasana share pengalaman dan pengetahuan. Dengan demikian akan terwujudnya iklim penyelesaian masalah dengan menggunakan tinjauan dari berbagai disiplin ilmu. Kabar baiknya, bahwa setiap guru akan menjadi pribadi yang berpikiran objektif, terbuka pada hal-hal baru dan mampu bersikap serta mau memberi inspirasi bagi yang lainnya.
Ke depan, guru sebagai pendidik diharapkan senantiasa mengasah dan mengembangkan kreativitas diri. Melalui pendidikan, latihan, serta motivasi yang tinggi, niscaya guru mampu menyajikan proses pembelajaran yang kreatif, inovatif dan inspiratif. Pada gilirannya, siswanya akan meniru perilaku kreatif dari sang guru. Maka, terjadilah proses saling menumbuhkembangkan kreativitas dalam suasana pembelajaran.

Penutup
Dunia pendidikan senantiasa dituntut antisipatif terhadap kebutuhan siswanya dalam menghadapi tantangan zaman. Pelayanan pendidikan perlu dioptimalkan melalui evaluasi dan pengembangan yang terus menerus pada bagian kurikulum, silabus, serta perangkat pembelajaran lainnya. Pihak sekolah hendaknya senantiasa memberdayakan para guru untuk senantiasa mau belajar mengembangkan diri yang tidak sebatas pada satu bidang kemampuan saja.

Sistem sinkronisasi sangat efektif bagi guru dalam membekali pengetahuan, ketrampilan dan kemampuan siswa-siswanya. Diharapkan siswa dapat mengembangkan pola belajar secara kreatif, salah satunya melalui sistem pembelajaran sinkronisasi.


DAFTAR PUSTAKA

Wardani, Laksmi Kusuma. 2000. Berpikir Kritis Kreatif: Belajar dan Mengajar Kreatif. Surabaya: Jurusan Desain Interior FSD-UK Petra.
Buchori, Imam. 2000. Refleksi Seni Rupa Indonesia : Perlunya Seni Pada Pendidikan Tinggi. Jakarta: Balai Pustaka.
Dasar. Jurnal Bahasa dan Seni, Vol. 28, No. 1, (72-93). Malang: Universitas Negeri Malang.
Enterprise, Jubilee. 2007. 88 Trik Rahasia Google.Com. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Ghiselin, Brewster. 1983. Proses Kreatif . Jakarta: Gunung Jati.
Munandar, SC Utami. 2002. Kreativitas dan Keberbakatan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Olson, Robert W. 1996. Seni Berpikir Kreatif. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Putra, Rahmat. 2007. Rahasia Menjadi Top 10 on Google. Jakarta: Dian Rakyat.
Semiawan, Conny R. et. al. 1999. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

4 komentar:

  1. terus berkarya, maka dengan sentuhan sedikit teknologi sekarang ini, PGRI menjadi makin solid.

    Sementara diduga Kab. Ngawi Jawa Timur ada tindakan yang diindikasi kurang pantas untuk seorang kepala sekolah TK. Untuk kerjasamanya bisa di lihat di blog kami http://www.sinarngawi.com

    Terimaksih dan salam Sukses

    BalasHapus
  2. Nice info..
    Saya jga brfikrn sperti itu..
    Ingin mengsingkronisasikan
    antra keahlian dengan teknologi.
    Say ingin merubh daya fikir mahasiswa yg sya ajar

    Ok terima kasih sharenya

    BalasHapus